Kenapa Film Anime Live Action Sering Gagal dan Mendapat Rating Rendah.

 Hallo sobat KA yang sejahtera.

Sudah seringkan nonton film anime live action? Rata-rata sih produksi dari negeri jepang. Meskipun beberapa film mulai diproduksi oleh Netflix. Seperti One Piece yang kemarin mulai mengumumkan pemerannya loh. Bisa dibaca disini.



Namun meskipun mempunyai hype yang besar, nyatanya film anime live action kebanyakan mengalami kegagalan dan tidak sesuai harapan penonton. Berikut KA mencoba mengupas hal-hal yang menyebabkan kenapa film anime live action jarang banget mendapatkan rating yang baik dibeberapa situs film khususnya film yang di produksi di jepang.


Alur Cerita.

Kebanyakan penonton anime live action, biasanya ia juga sudah menonton yang versi animasinya. Jadi ada dilema tersendiri jika ingin mengangkat film dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Jika si sutradara tidak mengubah alur cerita, maka penonton yang sudah nonton di anime akan terasa bosan, karena sudah tau apa-apa saja yang akan terjadi. Maka dari itu biasanya studio film akan merubah sedikit isi cerita agar ada efek penasaran dari penonton.


Serial anime yang diangkat menjadi film pastilah mempunyai alur cerita yang sangat bagus, maka dari itu anime tersebut dapat terkenal. Namun kenyataannya, seringkali alur cerita yang dibuat di film, kalah atau bahkan bisa dibilang sangat buruk dibandingkan dengan versi anime. Hal ini yang membuat para penggemar anime menjadi tidak puas dan merasa film tersebut gagal.

Mengubah karakter.


Hal yang paling fatal dari sebuah film anime live action adalah mengubah karakter yang sudah ada menjadi personal yang berbeda. Contoh nya kita lihat dari film Assassination Classroom, di anime seharusnya merupakan para pelajar SMP, tapi di film malah diperankan oleh orang-orang umur 20an. Ya jelas para penggemar gak akan nyaman nonton film tersebut, karena daya tarik dari film ini adalah pelajar masih muda yang diajarkan teknik membunuh.


Durasi.

Pada anime, kita diberikan alur panjang hingga bisa mencapai puluhan episode. Hal ini membuat pengarang bisa menyalurkan beberapa point penting dari isi cerita agar lebih mudah dicerna oleh penonton. Namun tentu saja sulit jika ingin memasukan semua hal penting tersebut kedalam sebuah film yang hanya berdurasi 1:30 sampai 2 jam saja. Maka dari itu beberapa penonton dan penggemar sering kali merasa kecewa karena beberapa adegan yang mereka tunggu tidak ada, bahkan beberapa cerita penting malah terlewatkan.

Akting.

Dan ini yang paling disorot dari anime live action, khususnya yang diproduksi dijepang. Akting menjadi masalah besar untuk artis-artis disana. Kita tahu animasi berbeda dengan wajah manusia asli. Dalam animasi, beberapa hal dibuat agak berlebihan dan se-ekspresif mungkin agar ekspresi tersebut dapat diperlihatkan kepada penonton. Tapi anehnya, artis-artis jepang tersebut malah meniru ekspresi yang ada di anime. Sehingga adegan yang diperankan terkesan tidak normal. Ketidak-normalan tersebutlah yang menjadi penonton agak janggal, risih dan bisa dibilang aneh. Andai kata artis-artis tersebut bertingkah sesuai manusia biasa, dan tidak mengikuti gerakan dan ekspresi dianime, saya yakin film-film produksi jepang bisa sangat bagus.

Padahal ini aktingnya sedang mengeluh capek,
tapi malah seperti orang kena jurus derita 1000 tahun.

Beberapa film anime live action jepang yang patut dicontoh:
1. Crows Zero
Alur cerita baru, fresh, tidak ada di manga dengan karakter yang benar-benar baru. Artis yang berperan pun merupakan artis yang senior. Seperti Sun Oguri.
2. Kenshin (samurai X trilogi)
Alur cerita persis sama dengan anime, hanya berbeda latar. Namun akting pemain bisa diacungi jempol dan tidak meniru gerakan-gerakan dianime.
3. Bakuman.
Alur bagus, akting bagus, salah satu film jepang live action terbaik yang saya tonton.
4. Deathnote.
Cerita bagus, teka-teki yang fresh, berbeda dengan di anime, meskipun alur cerita mirip. L sangat mirip dengan anime, salah satu kunci sukses live action ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar