Sejarah Gombal

Cowok: "Eh kamu gag kecapekan?"
Cewek: "Capek napa bang?"
Cowok: "Abis kamu dari tadi mutar-mutar terus di hati abang."
Cewek: #JungkirBalik

Mungkin percakapan di atas sudah sering kita baca di beberapa tulisan koran, majalah dan media internet. Bahkan banyak yang memanfaatkan kata-kata bernada seperti itu dalam melakukan lelucon di pertelevisian, khusus nya acara komedi.



Ya gombal sekarang sudah jadi bagian dari keseharian kita. Remaja-remaja sekarang bisa dikatakan sudah mahir dalam bergombal ria. Gombalan seakan menjadi bagian tersendiri dalam percintaan anak muda saat ini. Selain dapat meluluh-lantakkan hati para wanita, gombalan juga bisa menjadi humor yang mengundang tawa karena pernyataan gombal itu sendiri kadang tidak terduga. Tapi apa sih gombal itu sebenarnya? Apa zaman dulu sudah ada gombal?

Gombal menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

1. bohong; omong kosong: rayuan --; gom·bal·an n ucapan yg tidak benar, tidak sesuai dng kenyataan; omongan bohong: ~ developer yg berbahaya adalah beredarnya berbagai brosur yg menawarkan kondominium dan perumahan supermewah

noun
2. kain yg sudah tua (sobek-sobek)
Gombal menurut KBBI merupakan ucapan/ pujian kepada seseorang yang diragukan kebenarannya. Gombal merupakan pernyataan yang berbau kebohongan dan omong kosong yang dinyatakan dalam bentuk rayuan agar pasangan merasa senang. Perkataan yang bersifat gombal bukan menggunakan kata yang sebenarnya, melainkan khiasan untuk membuat pasangan lebih tertarik kepada orang yang melakukan gombalan.

Gombal-gombalan sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun tidak terlalu terkenal dan diperbesarkan seperti sekarang. Gombalan jaman dulu berbentuk rayuan dan pujian untuk menjalin hubungan yang lebih baik terhadap seseorang ataupun untuk memikat hati lawan bicara. Sebelum gombal menjadi bebas seperti sekarang, pada jaman dahulu pujian dan rayuan biasanya dituangkan dalam bentuk pantun, puisi dan syair, yang kemudian berkembang kembali dalam bentuk lagu dan irama.

Jika ada yang pernah yang pernah datang kepernikahan dengan menggunakan upacara adat (biasanya di daerah Sumatera dan Jawa) kemungkinan pernah mendengar sesepuh adat berbalas pantun antar mempelai pria dan wanita dengan menggunakan bahasa daerah. Nah disana juga terdapat rayuan dan pujian kepada mempelai wanita (sebagian adat ya) yang di bumbui dengan sebuah pantun daerah. Namun berbeda dengan pujian/ rayuan jaman dulu, gombal menggunakan kata-kata yang berlebihan dan dianggap sebagai bagian humor semata. Tapi masih ada juga yang tertipu dengan gombalan, khususnya wanita. Kenapa ya?

Gombal biasanya identik dengan laki-laki. Bahkan populer sekarang dengan sebutan Raja Gombal untuk para pria-pria yang sering mengucapkan kata sejenis itu. Sebenarnya laki-laki atau perempuan bisa melakukannya, namun pada perempuan, mendapat pujian merupakan suatu kebutuhan dalam dirinya sendiri. Perempuan yang mendapat pujian biasanya akan mendapat kesan tersendiri karena perempuan biasanya sangat sensitif dengan apa yang ia gunakan dan ia pakai. Berbeda dengan laki-laki yang terkesan cuek dan tidak menghiraukan perkataan orang lain, perempuan cenderung mendengarkan dan bereaksi dengan perkataan, termasuk pujian, rayuan dan gombalan. Meskipun perempuan sebagian besar menyangkal kalau mereka suka di rayu, tapi pada kenyataan nya adalah demikian. Tapi tentu saja rayuan kepada kaum perempuan jangan terlalu berlebihan dan menjurus keperkataan yang tidak sopan ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar